Vokoid dan Distribusinya


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang


      Dalam pembentukan bunyi bahasa ada tiga faktor utama yang terlibat, yakni sumber tenaga, alat ucap yang menimbulkan getaran, dan rongga pengubah getaran. Proses pembentukan bunyi bahasa dimulai dengan memanfaatkan pernapasan sebagai sumber tenaganya. Udara yang keluar dari paru-paru dapat melalui rongga mulut, rongga hidung, rongga mulut dan rongga hidung sekaligus.
      Bunyi  bahasa  yang  disebut  fon  dibentuk  dengan cara diartikulasikan. Berdasarkan  sifatnya,  artikulator  terbagi  dua,  yakni:  1)  artikulator  aktif dan 2) artikulator  pasif. Artikulator  aktif  biasanya  berpindah-pindah  posisi  untuk menentukan titik artikulasi guna menghasilkan bunyi bahasa. Menurut Lapoliwa (1981:18), hubungan posisional  antara  artikulator  aktif  dan  artikulator  pasif disebut striktur  (strictrure). Oleh  karena  vokal  tidak  mempunyai  artikulasi, strukturnya    ditentukan  oleh  celah  antara  lidah  dan  langit-langit. Sebelum membahas lebih jauh di sini perlu dijelaskan dulu bahwa selain istilah vokal dan konsonan lazim juga digunakan istilah vokoid dan kontoid untuk menyebut bunyi bahasa pada tingkat kajian fonetik. Akhir-akhir ini, pada umumnya orang lebih suka mengklasifikasikan kajian fonetik menggunakan istilah bunyi vokal dan bunyi konsonan dan untuk tingkat fonemik digunakan istilah fonem vokal dan fonem konsonan.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        1.2.1 Apa pengertian vokoid (vokal) dalam kajian linguistik
1.2.2        1.2.2 Bagaimana pengklasifikasian bunyi-bunyi vokal dalam kajian fonetik
1.2.3        1.2.3 Apa saja nama-nama fonem vokal yang ada di bahasa Indonesia
1.2.4        1.2.4  Bagaimana realisasi fonem vokal
1.2.5        1.2.5  Bagaimana distribusi vokoid dalam bahasa indonesia




BAB 2

PEMBAHASAN


2.1 Pengertian vokoid (vokal)

      Vokoid (Vokal) adalah jenis bunyi bahasa yang ketika dihasilkan atau diproduksi, setelah arus ujar keluar dari glotis tidak mendapat hambatan dari alat ucap, melainkan hanya diganggu oleh posisi lidah, baik vertikal maupun horisontal, dan bentuk mulut. Untuk lebih memahami dengan lebih baik perhatikan peta bagan vokal berikut.

Bagan A
POSISI LIDAH
DEPAN
TENGAH
BELAKANG
STRIKTUR
TBD
TBD
BD
N
Atas
TINGGI
bawah
i

I

u

U

Tertutup

Semi tertutup
atas
SEDANG
bawah
e

ɛ
ə
o




Semi terbuka
RENDAH

a

α
Terbuka


Keterangan:
TBD          = tidak bundar
BD                        = bundar
N               = netral

2.2 Klasifikasi bunyi vokal dalam kajian fonetik        

Klasifikasi  vokal  diperkenalkan  oleh  Daniel  Jones  (1958:18) dengan  istilah  sistem  vokal  kardinal.  Vokal  kardinal  adalah  bunyi  vokal  yang mempunyai  kualitas  tertentu,  yang  telah  dipilih  sedemikian  rupa  untuk  dibentuk dalam suatu rangka gambar bunyi. Rangka gambar bunyi ini dapat dipakai sebagai acuan  perbandingan  dalam  deskripsi  vokal  seluruh  bahasa  dunia.  Vokal  kardinal dilambangkan  dengan  [i,  e, ε,  a, α, ə,  o,  dan u]  dalam International  Phonetics Association  (Marsono, 1989: 26).
      Menurut  Soebardi  (1973:5—8),  bahasa  Indonesia  mempunyai  sepuluh vokoid (vokal); Pendapat Soebardi tersebut digambarkan dalam  tabel berikut ini.


Tabelnya dilewaaat :)


Berdasarkan bagan A tersebut bunyi-bunyi vokal dapat diklasifikasikan menurut:
1. Tinggi rendahnya posisi lidah
      Berdasarkan tinggi rendahnya posisi lidah bunyi-bunyi vokal dapat dibedakan atas:
a.       Vokal tinggi atas, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah meninggi, mendekat langit-langit keras. Caranya, rahang  bawah merapat ke rahang atas , seperti [i] pada [kita] dan [u] pada [hantu].
b.      Vokal sedang atas, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah meninggi, sehingga agak mendekati langit-langit keras. Caranya, rahang ats agak merapat ke rahang atas, seperti [e] pada [lele], [o] pada [soto].
c.       Vokal sedang tengah, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah ditengah. Caranya, rahang bawah dalam posisi netral atau biasa, seperti [ə] pada [səgəra], [ə] pada [əmas], [ə] pada [pəran]. Akibat kenetralan inilah, bunyi ini biasa diucapakan secra tidak sadar oleh pembicara sebagai “pengisi waktu” ketika lupa atau sebelum mengucapkan kata-kata yang ingin diucapkan.
d.      Vokal sedang bawah, yaitu bunyi yang dihasilakn dengan cara posisi lidah agak merendah, sehingga agak menjauhi langit-langit keras. Caranya, rahang bawah menjauh dari rahang atas, dibawah posisi netral, seperti [ε] pada [εlε?] dan [O] pada [jOrO?], [O] pada [pOkO?].
e.       Vokal rendah , yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah merendah sehinga menjauh dari langit-langit keras. Caranya, rahang bawah diturunkan sejauh-jauhnya dari rahang atas, seperti [a] pada [bata], [a] pada [armada], [α] pada [allαh], [α] pada [rαhmat].

      Kedudukan  lidah  dalam  mengucapkan  vokal  ini  dapat  terlihat  setelah  menggunakan  pemotretan  sinar  X,  sehingga  dapat  diketahui  titik  tertinggi  letak  ketinggian  lidah  yang  melengkung.  Titik  tertinggi  keempat  vokal [i], [a], [α], dan vokal [u]  jika dihubungkan akan menjadi gambar di bawah ini

Gambarnya dilewaaaaat :)


2. Maju mundurnya lidah
     Berdasarkan maju mundurnya lidah bunyi vokal dapat dibedakan atas:
a.  Vokal depan, seperti [i],[I], [e], [ε] dan [a]

Gambarnya dilewaaaaat :)
        b.  Vokal tengah, seperti [ə]


Gambarnya dilewaaaaat :)
        c. Vokal belakang, seperti [u], [U], [o], [O] dan [α]

Gambarnya dilewaaaaat :)


3. Bentuk bibir
            Dilihat dari bentuk bibir ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat dikelompokan menjadi: 
 a. Vokal bulat, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi bibir berbentuk bulat, seperti [u], [U], [o], [O] dan [α] 
 b. Vokal tidak bulat, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi bibir merata atau tidak bulat, seperti [i],[I], [e], [ε] dan [a]. 
c. Vokal netral, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk mulut tidak bundar dan tidak melebar, seperti bunyi [a].

4. Striktur
            Struktur adalah keadaan hubungan posisional (aktif) dengan pasif atau titik artikulasi. Karena vokal tidak mengenal artikulasi, struktur untuk vokal ditentukan oleh  jarak  antara  lidah  dengan  langit-langit.  Dilihat  dari  strikturnya,  vokal dibedakan  atas  empat  jenis,  yakni  vokal  tertutup,  vokal  semi-tertutup,  vokal terbuka, dan vokal semi-terbuka. 
a. vokal  tertutup,  yakni  vokal  yang  dibentuk  dengan  lidah  diangkat  setinggi  mungkin  mendekati  langit-langit  dalam  batas  vokal. Jika  digambarkan,  vokal tertutup ini terletak pada garis yang menghubungkan antara [i] dan [u].  Karena itu, menurut strukturnya vokal [i] dan [u] merupakan vokal tertutup. 
b. vokal semi-tertutup, yakni vokal yang dibentuk dengan lidah diangkat dalam ketinggian  sepertiga  di  bawah  tertutup  atau  dua  pertiga  diatas  vokal  yang paling  rendah,  terletak  pada  garis  yang  menghubungkan    antara  vokal  [e] dengan [o]. Karena itu, vokal [e] dan [o] termasuk vokal semi-tertutup. 
c. vokal semi-terbuka, yakni vokal yang dibentuk dengan lidah diangkat dalam ketinggian    sepertiga  di  atas  vokal  [ε]  dengan  [o].  Dengan  demikian,  vokal [ε] dan [o] termasuk vokal semi-terbuka  
d. vokal terbuka, yakni vokal yang dibentuk dengan lidah dalam posisi serendah mungkin kira-kira pada garis yang menghubungkan antara vokal [a] dengan [A]. Karena itu, kedua vokal itu termasuk vokal terbuka.

Berdasarkan kriteria yang dibicarakan tersebut, maka nama-nama vokal berdasarkan Bagan A dapat disebutkan sebagai berikut:
[i] adalah vokal depan, tinggi (atas), tak bundar, tertutup.
[I] adalah vokal depan, tinggi (bawah), tak bundar, tertutup.
[u] adalah vokal belakang, tinggi (atas), bundar, tertutup.
[U] adalah vokal belakang, tinggi (bawah), bundar, tertuup.
[e] adalah vokal depan, sedang (atas), tak bundar, semi tertutup.
[ε] adalah vokal depan, sedang (bawah), tak bundar, semi terbuka.
[ə] adalah vokal tengah, sedang, tak bundar, semi tertutup.
[o] adalah vokal belakang, sedang (atas), bundar, semi tertutup.
[] adalah vokal belakang, sedang (bawah), bundar, semi terbuka.
[a] adalah vokal belakang, rendah, netral, terbuka.

2.3 Fonem Vokal

Nama-nama fonem vokal yang ada dalam bahasa Indonesia adalah :
1.      /i/         vokal depan, tinggi, tak bundar
2.      /e/        vokal depan, sedang, atas, tak bundar
3.      /a/        vokal depan, rendah, tak bundar
4.      /ə/        vokal tengah, sedang, tak bundar
5.      /o/        vokal belakang, sedang, bundar



Status fonem-fonem vokal itu dapat dibuktikan dengan pasangan minimal berikut.



 Fonem
Posisi dalam kata
Awal
Tengah
Akhir
/i/
/e/
/a/
/ə/
/u/
/o/
ikan x akan
enak x anak
alam x ulam
əraɳ x araɳ
udaɳ x adaɳ
onak x anak
Makin x makan
Raket x rakit
Alih x alah
kəra x kira
kasur x kasar
kaloɳ x kalaɳ
Dari x dara
Sate x satu
Para x pari
Kodə x kodi
Labu x laba
Toko x tokoh

Simak peta vonem vokal berikut !




Depan
Tengah
Belakang
Tinggi
I

u
Sedang
E
ə
o
Rendah

a



 2.4 Realisasi Fonem Bahasa Indonesia

       Realisasi fonem sebenarnya sama dengan bagaimana fonem itu dilafalkan. Di sini secara terbatas dalam kajian fonetik, kita mencoba merumuskan bagaimana fonem-fonem bahasa Indonesia harus direalisasikan, dalam arti harus dilafalkan atau diucapkan.
     
Realisasi Fonem Vokal
Secara umum realisasi fonem vokal bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :
  

      1. Fonem /i/
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [i] apabila berada pada silabel terbuka atau silabel tak berkoda seperti pada kata <kini> [kini], <lidi> [lidi], dan <sapi> [sapi].
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [I] apabila berada pada silabel tertutup atau silabel berkoda seperti pada kata <batik> [batIk], <ambil> [ambIl], dan <lirik> [lirIk]
Catatan :
Fonem [i] pada suku kata lirik sebenarnya berada pada suku terbuka. Namun, dilafalkan juga sebagai bunyi [I] sebagai akibat dari pengaruh lafal fonem [i] pada suku kedua kata itu yang merupakan suku tertutup. Hal seperti ini disebut harmonisasi vokal.


2. Fonem /e/
Fonem /e/ mempunyai dua macam realisasi, yaitu :
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [e] apabila berada pada silabel terbuka, seperti pada kata <sate> [sate], <pete> [pəte], dan <berabe> [bərabe].
Kedua, direlisasikan sebagai bunyi [ε] apabila berada pada silabel tertutup, seperti pada kata <monyet> [mñεt], <karet> [karεt], dan <ember> [εmbεr]. Pada kata efek [εfek], fonem /e/ pada silabel pertama juga dilafalkan sebagai bunyi [ε] meskipun berada pada silabel terbuka. Hal ini terjadi karena pengaruh bunyi [ε] pada silabel kedua yang merupakan silabel tertutup.

3. Fonem /a/
Secara umum fonem /a/ diealisasikan sebagai bunyi [a], baik pada posisi awal kata, tengah kata, maupun akhir kata seperti pada kata <apa>, <padam>, dan <dua>. Secara fonetis, akibat pengaruh lingkungan, sebenarnya fonem /a/ pada silabel pertama kata apa, pada silabel kedua kata padam, dan silabel kedua kata dua juga tidak sama. Namun, ketidaksamaan itu tidak dapat dipolakan seperti pada pengucapan fonem /i/ dan /e/.


4. Fonem /ə/
Secara umum direalisasikan sebagai bunyi [ə] seperti pada kata <kera> [kəra], <erat> [ərat], dan <maret> [marət].


5. Fonem /u/
Fonem /u/ ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu :
Pertama, dilafalkan sebagai bunyi [u] apabila berada pada silabel terbuka seperti pada kata <susu> [susu], <ibu> [ibu] dan <tunggu> [tuɳgu].
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [U] apabila berada pada silabel tertutup seperti pada kata <kssur> [kasUr], <libur> [libUr], dan <tangguh> [taɳgUh]. Fonem /u/ pada silabel pertama kata ukur juga dilafalkan sebagai bunyi [U] meskipun berada pada silabel terbuka. Mengapa? Karena pengaruh bunyi [U] pada silabel kedua yang berupa silabel tertutup.

6. Fonem /o/
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu :
Pertama, direalisasikan sebagagai bunyi [o] apabila berada pada silabel terbuka, seperti pada kata <toko> [toko], <bakso> [ba?so], dan <oto> [oto].
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [] apabila berada pada silabel tertutup, seperti pada kata <tokoh> [tkh], <besok> [bεsk] dan <bodoh> [bdh]. Fonem /o/ pada kata seperti obat dan orang mempunyai dua variasi, yaitu sebagai bunyi [o] atau sebagai bunyi []. Jadi, kata obat dilafalkan sebagai [obat] atau [bat]; dan kata orang dilafalkan sebagai [oraɳ] atau [raɳ].

2.5 Distribusi Fonem Bahasa Indonesia

Distribusi fonem adalah letak atau beradanya sebuah fonem di dalam satu satuan ujaran, yang kita sebut sebuah kata atau morfem.
Fonem Vokal 
Vokal /a/, dapat menduduki semua posisi seperti tampak pada contoh : ambil, taat dan harga. 
Vokal /i/, dapat menduduki semua posisi seperti tampak pada contoh : indah, amin, dan tani. 
Vokal /e/, dapat menduduki semua posisi seperti tampak pada contoh : enak, karet, dan sate.
Vokal /ə/ dapat menduduki posisi awal, posisi tengah, dan posisi akhir seperti tampak pada contoh : [əmas], [ləmbut], ]kodə]. 
Vokal /i/ dapat menduduki semua posisi seperti tampak pada contoh : udaɳ, sambut, dan lagu. 
Vokal /o/ dapat menduduki semua posisi, seperti tampak pada contoh : oleh, belok, dan bakso.


BAB 3
SIMPULAN

            Vokoid (Vokal) adalah jenis bunyi bahasa yang ketika dihasilkan atau diproduksi, setelah arus ujar keluar dari glotis tidak mendapat hambatan dari alat ucap, melainkan hanya diganggu oleh posisi lidah, baik vertikal maupun horisontal, dan bentuk mulut.
            Dalam kajian fonetik bunyi vokoid (vokal) dibagi menjadi yaitu [i], [I], [u], [U], [e], [ɛ], [ǝ], [o], [], [a], [α].                           
            Bunyi- bunyi vokal diklasifikasikan menurut: Tinggi rendahnya posisi lidah, Maju mundurnya lidah, Bentuk bibir dan Striktur.
            Dalam kajian fonemik, fonem vokal dibagi menjadi /a/, /i/, /e/, /ǝ/, /u/, /o/.



DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Muslich, Masnur. Fonologi Bahasa Indonesia: Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
Chaer, abdul. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta, 2007.
Parera, Jos Daniel. Pengantar Linguistik Umum: Fonetik dan Fonemik. Ende Flores: Nusa Indah, 1983.
Verhaar, J.W.M. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1979. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buat Apa sih Kuliah? | #jangankuliah

Berapa Usia Ideal Seorang Wanita Untuk Menikah?