Tak Ada Jalan Gajah Mada di Bandung
Ciracas, 1 mei 2012
04.14 waktu jakarta
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Dia datang, membuat sejarah, lalu pergi. Begitu saja. Tapi dia tetap meninggalkan sejumlah kontroversi, misteri dan sejumlah pertanyaan. Bahkan hingga ratusan tahun kemudian, saat jasadnya tak lagi berbentuk. Dari mana dia, siapa dia dan di mana makamnya, belum ada titik terang hingga kini. Bahkan wajahnya, sebagaimana yang sering kita lihat di buku-buku sejarah, para ahli juga masih belum yakin.
Mahapatih Gajah Mada, siapa yang tidak pernah mendengar namanya. Sebab pada masa itu Kerajaan Majapahit menjelma menjadi sebuah kerajaan besar, dengan wilayah yang meliputi hampir seluruh Nusantara, termasuk beberapa wilayah di Asia Tenggara.
Juga Gajah Mada terkenal karena sumpahnya. Amukti Palapa. Konon dia tidak akan menikmati Palapa, sebelum cita-citanya terlaksana. Untuk menyatukan seluruh nusantara. Ada dua versi mengenai Palapa ini, ada yang menyatakan bahwa palapa adalah sejenis rempah-rempah. Namun juga, versi lain yang menyatakan bahwa itu hanyalah kiasan bahwa Gajah Mada tidak akan mencicipi segala kenikmatan duniawi sebelum ambisinya terwujud.
Kemudian Gajah Mada diabadikan namanya, meski mungkin dia tidak mengharapka. Namanya menjadi salah satu universitas terbesar di Indonesia. Juga menjadi nama jalan di kota-kota besar seluruh Indonesia. Tetapi tidak di Bandung. Jalan Gajah Mada tidak ditemukan di Bandung, Bogor dan sejumlah kota besar lainnya.
Hal ini berkaitan dengan luka sejarah di masa lampau. Luka yang mungkin masih terasa sampai sekarang.
Konon. Raja Majapahit waktu itu, Hayam Wuruk, tertarik dengan putri Kerajaan Pajajaran dengan Dyah Pitaloka. Maka lamaran pun dikirimkan dan diterima. Yang menjadi persoalan adalah Majapahit bersikeras bahwa bahwa upacara pernikahan harus dilangsungkan di wilayah Majapahit. Tentu saja hal itu ditolak karena sebagaimana tradisi, pernikahan biasanya dilaksanakan di pihak perempuan.
Namun setelah melewati berbagai negosiasi, akhirnya Raja Pajajaran menyetujui. Maka berangkatlah sejumlah besar rombongan calon pengantin ke Majapahit, dipimpin langsung oleh Raja Pajajaran.
Kemudian rombongan memasuki wilayah Majapahit. Di sebuah wilayah bernama Bubat. Rombongan diterima oleh Gajah Mada, yang menyatakan bahwa pernikahan tersebut adalah sebagai tanda pengakuan kekuasaan Pajajaran atas Majapahit. Raja Pajajaran yang menolak, sehingga terjadilah peperangan. Seluruh rombongan Pajajaran terbunuh, termasuk Dyah Pitaloka.
Meski Perang Bubat terjadi di tahun 1357, namun hingga kini Gajah Mada seperti menjadi sebuah mimpi buruk di sana. Namanya tidak ditemukan di jalan-jalan, juga Hayam Wuruk.
re post from disini
04.14 waktu jakarta
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Dia datang, membuat sejarah, lalu pergi. Begitu saja. Tapi dia tetap meninggalkan sejumlah kontroversi, misteri dan sejumlah pertanyaan. Bahkan hingga ratusan tahun kemudian, saat jasadnya tak lagi berbentuk. Dari mana dia, siapa dia dan di mana makamnya, belum ada titik terang hingga kini. Bahkan wajahnya, sebagaimana yang sering kita lihat di buku-buku sejarah, para ahli juga masih belum yakin.
Mahapatih Gajah Mada, siapa yang tidak pernah mendengar namanya. Sebab pada masa itu Kerajaan Majapahit menjelma menjadi sebuah kerajaan besar, dengan wilayah yang meliputi hampir seluruh Nusantara, termasuk beberapa wilayah di Asia Tenggara.
Juga Gajah Mada terkenal karena sumpahnya. Amukti Palapa. Konon dia tidak akan menikmati Palapa, sebelum cita-citanya terlaksana. Untuk menyatukan seluruh nusantara. Ada dua versi mengenai Palapa ini, ada yang menyatakan bahwa palapa adalah sejenis rempah-rempah. Namun juga, versi lain yang menyatakan bahwa itu hanyalah kiasan bahwa Gajah Mada tidak akan mencicipi segala kenikmatan duniawi sebelum ambisinya terwujud.
Kemudian Gajah Mada diabadikan namanya, meski mungkin dia tidak mengharapka. Namanya menjadi salah satu universitas terbesar di Indonesia. Juga menjadi nama jalan di kota-kota besar seluruh Indonesia. Tetapi tidak di Bandung. Jalan Gajah Mada tidak ditemukan di Bandung, Bogor dan sejumlah kota besar lainnya.
Hal ini berkaitan dengan luka sejarah di masa lampau. Luka yang mungkin masih terasa sampai sekarang.
Konon. Raja Majapahit waktu itu, Hayam Wuruk, tertarik dengan putri Kerajaan Pajajaran dengan Dyah Pitaloka. Maka lamaran pun dikirimkan dan diterima. Yang menjadi persoalan adalah Majapahit bersikeras bahwa bahwa upacara pernikahan harus dilangsungkan di wilayah Majapahit. Tentu saja hal itu ditolak karena sebagaimana tradisi, pernikahan biasanya dilaksanakan di pihak perempuan.
Namun setelah melewati berbagai negosiasi, akhirnya Raja Pajajaran menyetujui. Maka berangkatlah sejumlah besar rombongan calon pengantin ke Majapahit, dipimpin langsung oleh Raja Pajajaran.
Kemudian rombongan memasuki wilayah Majapahit. Di sebuah wilayah bernama Bubat. Rombongan diterima oleh Gajah Mada, yang menyatakan bahwa pernikahan tersebut adalah sebagai tanda pengakuan kekuasaan Pajajaran atas Majapahit. Raja Pajajaran yang menolak, sehingga terjadilah peperangan. Seluruh rombongan Pajajaran terbunuh, termasuk Dyah Pitaloka.
Meski Perang Bubat terjadi di tahun 1357, namun hingga kini Gajah Mada seperti menjadi sebuah mimpi buruk di sana. Namanya tidak ditemukan di jalan-jalan, juga Hayam Wuruk.
re post from disini
Komentar
Posting Komentar